Mengenal Syaikh Ibrahim Ad Dusuqi

Dalam banyak literatur disebutkan bahwa syaikh Ibrahim Ad Dusuqi bin Abdul-Aziz lahir tahun 1255 M / 653 H yaitu pada malam terakhir bulan Syakban di Kota Dusuq Mesir, wafat pada umur 41 tahun. beliau adalah seorang tokoh sufi terkenal dan pendiri Thariqah Dusuqiyah atau thariqat Burhamiyah. Diantara beberapa gelar beliau yang terkenal adalah Abul Ainain dan Burhanul Millati Waddin

Beliau Syaikh Ibrahim Ad Dusuqi termasuk Wali Qutub selain Syaikh Ahmad Ar Rifai, Syaikh Ahmad Al Badawi, Syaikh Abdul Qadir Al Jailani dan Syaikh Abul Hasan Asy Syazuli, sebagaimana yang diyakini oleh ulama-ulama tasawuf seperti Syaikh Mahmud Al Bargawy dalam kitabnya al-Ayatuzzahirah fi Manaqib al-Awliya’ wal-Aqthab al-Arba’ah dan Assayyid Abul Huda dalam kitabnya Farhatul-Ahbab fi Akhbar al-Arba’ah al-Ahbab dan kitab Qiladatul-Jawahir fi Zikril Gautsirrifa’I wa Atba’ihil-Akabir.

Sedangkan ayahanda dari Syaikh Ibrahim Ad Dusuqi yaitu, Al-Arif billah Sayyidi Abdul Aziz yang digelari sebagai Abul Majdi pada zamannya dan Ibunda dari Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi yaitu, Syarifah Fatimah binti Abdullah bin Abdul Jabar, adalah seorang wanita shalihah dan merupakan saudari sekandung tokoh sufi terkenal yaitu Syaikh Abul Hasan Asy Syazuli.

Masa kecil Syaikh Ibrahim Ad Dusuqi dihabiskan untuk menghafal Al Qur’an dan mempelajari berbagai disiplin ilmu agama seperti Ilmu Bahasa, Tafsir, Hadis, Fikih dan lain sebagainya dari ulama-ulama di kota Dusuq. Beliau sangat alim dalam Mazhab Syafii dan pakar dalam ilmu tasawuf. Salah satu keisimewaan beliau adalah menguasai bahasa Suryani dan ibrani, karena beliau juga menulis sejumlah kitab dan risalah dalam bahasa Suryaniyyah dan Ibriyyah.

Masa remaja Syaikh Ibrahim Ad Dusuqi banyak dihabiskan dengan berkhalwat sehingga banyak orang yang datang belajar suluk atau berthariqat darinya. Syaikh Ibrahim Ad Dusuqi dan para pengikutnya ini memakai sorban berwarna hijau sementara sorban yang dipakai oleh Syaikh Ahmad al Badawi dan para pengikutnya berwarna merah dan serban para pengikut Syaikh Ahmad ar Rifa'i berwarna hitam.

Ada banyak manaqib tentang Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi yang menceritakan tentang kemuliannya dihadapan para raja saat itu dan dihadapan masyarakat umum, diantaranya sebuah kisah yang diceritakan oleh Syaikh Ahmad bin Jalaluddin Al Karki dalam kitab beliau “ Lisanutta’rif bihalil-Wali As-Syarif Sayidi Ibrahim Ad-Dusuqi ra “ beliau bercerita, "Bahwasanya Syaikh Ibrahim Ad Dusuqi pernah berkirim surat kepada Sultan Asyraf khalil bin qalawun yang berisi kritikan pedas untuknya. Disebabkan perbuatan zalim sultan kepada rakyatnya. Maka Sultan pun murka dan memanggilnya, tetapi Syaikh Ibrahim Ad Dusuqi menolak untuk mendatangi panggilan ini dan berkata, ”Aku tetap di sini, siapa yang ingin bertemu denganku, maka dialah yang harus menemuiku.” Sultan pun tidak bisa berbuat banyak terhadap Syaikh Ibrahim Ad Dusuqi karena dia tahu posisinya di mata masyarakat. Akhirnya sultan pun datang kepadanya dan meminta maaf. Syaikh Ibrahim Ad Dusuqi menyambutnya dengan baik dan memberi kabar gembira akan kemenangannya dalam peperangan melawan tentara salib dan terbuktilah kemenangan itu di kemudian hari."

Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi mendirikan Thariqat yang dikenal dengan nama thariqah Burhamiyyah atau Dusuqiyyah. Nama Burhamiyyah (البُرهامية) diambil dari nama dia sebagai pendiri tarekat ini yaitu Ibrahim, nama Dasuqiyyah (الدسوقية) dinasabkan pada nama tempat kelahiran Dia di kota Dusuq (دسوق)

Berdasarkan UU Nomor 118/76 yang mengatur tentang Majelis Tertinggi Thariqah Sufi di Mesir menyatakan bahwa Thariqat ad-Dusuqiyyah merupakan diantara thariqah-thariqah yang legal (mu’tabarah) di Republik Arab Mesir dengan nama Thariqat Dusuqiyyah Muhammadiyyah.

Sedangkan di Indonesia, pengakuan terhadap legalitas Thariqat Dusuqiyyah juga sudah sejak lama bahkan itu pada tahun 1970 dan hal itu disampaikan oleh ormas Islam terbesar Indonesia yaitu Nahdhatul Ulama melalui Badan Otonom resminya yaitu JATMAN (Jam’iyah Ahlith Thoriqoh al Mu’tabarah an-Nahdliyah). Dan kini resmi terdaftar dengan nama Thariqah Dusuqiyyah Muhammadiyyah dibawah asuhan As-Sayyid As Syaikh Mukhtar Aly Muhammad Ad Dusuqi.

Banyak jejak sejarah yang menyatakan bahwa Syaikh Ibrahim Ad Dusuqi meninggalkan banyak kitab dalam bidang Fikih, Tauhid, danTafsir, tetapi yang paling terkenal adalah kitab yang masyhur di sebut “Al-Jawahir” atau “Al-Haqaiq”. Beliau juga mempunyai karya dalam bentuk lantunan Qasidah-qasidah dan Mauidzoh-mauidzoh hingga seorang Sarjana orientalis memindahkan beberapa karyanya ke Jerman dan salah satu Puisinya diawetkan dan dipamerkan di British Museum di London .

Beliau dikenal dengan nasihat nasihat yang indah dan menyejukkan bagi para ahli suluk dalam berthariqah, diantara kalam beliau adalah

“ Syariat adalah pokok, sedangkan Hakikat adalah cabang. Syariat mengandung segala ilmu yang disyariatkan, sedangkan Hakikat mengandung segala ilmu yang tersembunyi. Seluruh maqam (kedudukan di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala) bertingkat-tingkat di dalam keduanya, Syariat itu pohon dan Hakikat itu buahnya “

“ Ahli Syariat akan batal Shalatnya dengan bacaan yang buruk, sedangkan ahli Hakikat akan batal shalatnya dengan akhlak yg buruk. Apabila di dalam bathinnya terdapat kedengkian atau iri hati, buruk sangka kepada seseorang, mencintai dunia, maka shalatnya batal “

“siapapun yang berthariqat tapi meninggalkan Syariat, maka ia bukanlah anakku (murid) walaupun ia anak kandungku “

Tentang karomahnya, Syaikh Abdul Wahhab As Syakroni, berkata: "Tuanku, Sayyidi Ibrahim Ad Dasuqi, memiliki Karomah yang banyak, hal-hal yang luar biasa, menguasai rahasia-rahasia malakut, sejak lahir sudah berpuasa, menguasai bahasa Ajami, Suryani, Ibrani, Zinji, seluruh bahasa burung, binatang dan makhluk-makhluk buas lainnya."

Syaikh Ibrahim Ad Dusuqi wafat pada tahun 696 H/1296 M, pada usia 43 tahun dalam hitungan kalender Hijriah atau 41 tahun dalam hitungan kalender Masehi. beliau di makamkan di Zawiyahnya di mana dia selalu beribadah di dalamnya, di kota Dusuq Mesir.
Berdekatan dengan makamnya ada makam saudara sekaligus penggantinya yaitu Sayyid Musa Abu al-Imran.

Penulis: TGH. Saipul Bahrain. Lc. MH


Berikan Komentar

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin