Rasulullah adalah teladan terbaik dalam hal ini. Bahkan sebelum diangkat menjadi nabi, beliau telah dikenal oleh masyarakat Mekah dengan gelar Al-Amin, yaitu orang yang dapat dipercaya.
Khutbah
I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ
الَّذِيْ حَمْدًا
يُوَافِيْ نِعَمَهُ
وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ،
يَا رَبَّنَا
لَكَ الْحَمْدُ
كَمَا يَنْبَغِيْ
لِجَلَالِ وَجْهِكَ
وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ،
أَشْهَدُ أَنْ
لَا إِلَهَ
إِلَّا اللّٰهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ
سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ،
خَيْرُ نَبِيٍّ
أَرْسَلَهُ اللّٰهُ
إِلَى الْعَالَمِ
كُلِّهِ بَشِيْرًا
وَنَذِيْرًا. اللَّهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ
وَبَارِكْ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى أَلِ
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
صَلَاةً وَسَلَامًا
مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى
يَوْمِ الدِّيْنِ
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ
اِتَّقُوا اللّٰهَ
حَقَّ تُقَاتِهِ
وَلَا تَمُوْتُنَّ
اِلَّا وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ قَالَ
اللّٰهُ تَعَالَى
فِي الْقُرْاٰنِ
الْعَظِيْمِ.: يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوا
اتَّقُوا اللّٰهَ
وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ
الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا
فِيْ سَبِيْلِهٖ
لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Marilah
kita terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Kita jalankan perintah-Nya
dan kita tinggalkan apa yang dilarang-Nya. Sebab, takwa bukan hanya terlihat
ketika kita berada di masjid, ketika kita salat, berzikir, atau membaca
Al-Qur’an. Takwa juga terlihat ketika kita kembali ke rumah, ketika kita
bekerja, ketika mencari nafkah, dan ketika menjalankan amanah yang diberikan
kepada kita.
Allah
SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ
اعْبُدُوا رَبَّكُمُ
الَّذِي خَلَقَكُمْ
وَالَّذِينَ مِنْ
قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُونَۙ
Artinya:
"Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan
orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS Al-Baqarah: 21)
Ma’asyiral
Muslimin rahimakumullah,
Salah
satu bentuk ketakwaan yang kadang kita lupakan adalah bagaimana kita menjalankan
pekerjaan. Apa pun pekerjaan kita, di dalamnya ada amanah. Petani memegang
amanah. Pedagang memegang amanah. Buruh, karyawan, guru, pegawai, pejabat, dan
para pemimpin, semuanya memegang amanah.
Karena
itu, Islam tidak hanya mengajarkan kita untuk memiliki niat yang baik. Niat
baik harus dibuktikan dengan perbuatan yang baik. Kita dituntut untuk bekerja
dengan jujur, bertanggung jawab, dan sungguh-sungguh sesuai dengan kemampuan
yang kita miliki.
Ma’asyiral
Muslimin rahimakumullah,
Untuk
memahami hal ini, marilah kita melihat teladan Rasulullah SAW. Jauh sebelum
diangkat menjadi Rasul, Nabi Muhammad SAW sudah dikenal sebagai orang yang
bekerja. Sejak usia muda, beliau berdagang dan mencari rezeki dengan usaha yang
beliau lakukan sendiri.
Rasulullah
SAW bersabda:
مَا
أَكَلَ أَحَدٌ
طَعَامًا قَطُّ
خَيْرًا مِنْ
أَنْ يَأْكُلَ
مِنْ عَمَلِ
يَدِهِ وَإِنَّ
نَبِيَّ اللهِ
دَاوُدَ عَلَيْهِ
السَّلَامُ كَانَ
يَأْكُلُ مِنْ
عَمَلِ يَدِهِ
Artinya:
"Tidak ada seseorang yang memakan satu makanan pun yang lebih baik
daripada makanan hasil usaha tangannya sendiri. Sesungguhnya Nabi Allah Dawud
AS makan dari hasil usaha tangannya sendiri." (HR Imam Bukhari).
Hadis
ini mengajarkan kepada kita bahwa mencari rezeki yang halal dengan bekerja
adalah sesuatu yang mulia. Selama Allah masih memberikan kita kesehatan,
tenaga, dan kemampuan, jangan biasakan diri hanya menunggu pemberian orang
lain. Berusahalah. Bekerjalah. Carilah rezeki yang halal, karena rezeki yang
diperoleh dengan cara yang halal akan membawa ketenangan dan keberkahan.
Namun,
jamaah yang dimuliakan Allah, Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan kita untuk
bekerja. Beliau juga mengajarkan bagaimana cara bekerja. Bekerja harus
dilakukan dengan jujur, amanah, dan penuh tanggung jawab.
Ketika
berusia sekitar 25 tahun, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dagang ke Syam
membawa barang dagangan milik Sayyidah Khadijah RA dan ditemani oleh Maisarah.
Dalam perjalanan itu, Rasulullah SAW menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung
jawab. Barang dagangan berhasil terjual dan menghasilkan keuntungan yang baik.
Maisarah
menyaksikan sendiri bagaimana kejujuran dan akhlak Rasulullah SAW dalam
berdagang dan selama perjalanan. Apa yang dilihatnya kemudian disampaikan
kepada Khadijah RA. Khadijah tidak hanya mendengar bahwa Muhammad adalah
seorang pedagang yang berhasil mendapatkan keuntungan, tetapi ia juga
mengetahui bahwa Muhammad adalah seorang yang jujur, amanah, dan memiliki
akhlak yang luhur.
Kejujuran
dan amanah itulah yang membuat pribadi Rasulullah SAW semakin mulia di mata
Khadijah RA. Kisah ini antara lain disebutkan oleh Shafiyurrahman
Al-Mubarakfuri dalam kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum (2013, hlm. 62).
Ma’asyiral
Muslimin rahimakumullah,
Dari
sini kita belajar bahwa kejujuran adalah modal yang sangat berharga dalam
kehidupan. Harta bisa habis. Jabatan bisa hilang. Popularitas bisa berubah.
Tetapi nama baik dan kejujuran akan selalu menjadi kehormatan bagi seseorang.
Rasulullah
SAW bersabda:
التَّاجِرُ الصَّدُوقُ
الْأَمِينُ مَعَ
النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ
وَالشُّهَدَاءِ
Artinya:
"Pedagang yang jujur dan terpercaya akan bersama para nabi, orang-orang
yang benar, dan para syuhada." (HR At-Tirmidzi)
Perhatikan
baik-baik, jamaah sekalian. Rasulullah SAW tidak mengatakan bahwa pedagang yang
paling kaya akan mendapatkan kedudukan tersebut. Beliau juga tidak mengatakan
pedagang yang paling terkenal. Yang beliau sebut adalah pedagang yang jujur dan
amanah.
Maka
jangan pernah merasa rendah hanya karena pekerjaan kita sederhana. Jangan
merasa malu menjadi petani, buruh, pedagang kecil, nelayan, sopir, karyawan,
guru, atau pekerja apa pun yang halal. Kemuliaan seseorang bukan semata-mata
karena besar kecilnya pekerjaan, tetapi karena bagaimana ia menjalankan
pekerjaan tersebut.
Petani
yang jujur adalah mulia. Pedagang yang tidak menipu adalah mulia. Karyawan yang
tidak bermalas-malasan adalah mulia. Guru yang sungguh-sungguh mendidik
muridnya adalah mulia. Seorang pemimpin yang tidak menyalahgunakan jabatannya
adalah mulia. Selama pekerjaan itu halal dan dilakukan dengan amanah,
insyaallah ada nilai kebaikan di sisi Allah SWT.
Ma’asyiral
Muslimin rahimakumullah,
Tetapi
ada satu hal penting yang juga perlu kita ingat. Niat baik dan kejujuran saja
belum cukup. Dalam menjalankan amanah, kita juga membutuhkan kemampuan.
Sebab,
orang yang jujur tetapi tidak mau belajar bisa saja melakukan kesalahan. Orang
yang memiliki niat baik tetapi tidak memiliki kemampuan dapat membuat keputusan
yang keliru. Karena itu, menjadi amanah juga berarti mau belajar dan terus
memperbaiki kemampuan diri.
Rasulullah
SAW memberikan teladan dalam hal ini. Ketika berdagang, beliau tidak
melakukannya secara sembarangan. Beliau memahami masyarakat, mengetahui
kebutuhan mereka, memahami kebiasaan mereka, dan mengetahui bagaimana
perdagangan dilakukan.
Allah
SWT menggambarkan kebiasaan perdagangan orang-orang Quraisy dalam firman-Nya:
لِاِيْلٰفِ
قُرَيْشٍۙ ١
اٖلٰفِهِمْ رِحْلَةَ
الشِّتَاۤءِ وَالصَّيْفِۚ
٢
Artinya:
"Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, yaitu kebiasaan mereka bepergian
pada musim dingin dan musim panas.” (QS Al-Quraisy: 1-2)
Ayat
tersebut menggambarkan bagaimana masyarakat Quraisy memiliki kebiasaan
melakukan perjalanan perdagangan pada musim dingin dan musim panas. Mereka
mengenal perjalanan, mengenal perdagangan, dan memahami kebutuhan masyarakat
yang mereka layani.
Dari
sini kita belajar bahwa Rasulullah SAW bukan hanya memiliki niat yang baik.
Beliau juga memiliki kemampuan. Beliau memahami pekerjaannya, belajar dari
pengalaman, mengetahui kebutuhan masyarakat, dan menggunakan kemampuannya untuk
menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Inilah
yang hari ini kita kenal dengan istilah profesional. Sederhananya, profesional
berarti berusaha melakukan pekerjaan dengan benar karena kita memahami
pekerjaan tersebut dan memiliki kemampuan untuk menjalankannya.
Ma’asyiral
Muslimin rahimakumullah,
Pelajaran
ini berlaku untuk kita semua. Kalau kita menjadi pedagang, pelajarilah
perdagangan dan jangan menipu pembeli. Kalau kita menjadi guru, teruslah
belajar agar mampu mendidik dengan baik. Kalau kita menjadi petani, pelajarilah
cara bertani yang lebih baik. Kalau kita menjadi karyawan, pahami pekerjaan
kita dan lakukan dengan sungguh-sungguh.
Begitu
pula bagi siapa pun yang mendapatkan jabatan dan tanggung jawab yang lebih
besar. Tidak cukup hanya mengatakan, “Saya punya niat baik.” Niat baik harus
disertai kemampuan. Sebab, ketika sebuah amanah diberikan kepada orang yang
tidak mampu, akibatnya tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri. Kesalahannya
bisa merugikan banyak orang.
Rasulullah
SAW mengingatkan kita:
فَإِذَا ضُيِّعَتْ
الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ
السَّاعَةَ قَالَ
كَيْفَ إِضَاعَتُهَا
قَالَ إِذَا
وُسِّدَ الْأَمْرُ
إِلَى غَيْرِ
أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ
السَّاعَةَ
Artinya:
"Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah datangnya
kiamat." Seseorang bertanya, “Bagaimana amanah itu disia-siakan?”
Rasulullah
SAW menjawab:
"Apabila
suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah
datangnya kiamat." (HR Al-Bukhari)
Ma’asyiral
Muslimin rahimakumullah,
Dari
teladan Rasulullah SAW kita belajar bahwa niat baik, amanah, dan kemampuan
harus berjalan bersama. Niat yang baik memberi kita tujuan yang benar. Amanah
menjaga kita dari pengkhianatan. Kemampuan membuat kita mampu menjalankan tugas
dengan baik. Semoga Allah SWT menjadikan kita orang-orang yang baik
niatnya, jujur dalam pekerjaannya, amanah dalam tanggung jawabnya, dan
bersungguh-sungguh dalam meningkatkan kemampuannya. Semoga pekerjaan kita
menjadi jalan memperoleh rezeki yang halal, kehidupan yang berkah, dan ridha
Allah SWT.
بَارَكَ
اللّٰهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِيْ
الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ
وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ الذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ
مِنِّيْ وَمِنْكُمْ
تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ
هُوَ الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ، فَاعْتَبِرُوْا
يَآ أُوْلِى
اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُوْنَ
Khutbah
II
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ الَّذِي
هَدَانَا لِهَذَا
وَمَا كُنَّا
لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا
أَنْ هَدَانَا
اللّٰهُ. أَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلٰهَ إِلَّا
اللّٰهُ وَحْدَهُ
لَا شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَنْ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
لَا نَبِيَّ
بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ
وَبَارِكْ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ
الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا آيُّهَا
الحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ
وَإِيَّايَ بِتَقْوَى
اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ
لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ
حَقَّ تُقَاتِهِ
وَلَا تَمُوتُنَّ
إِلَّا وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا
فَإِنَّ خَيْرَ
الزَّادِ التَّقْوَى.
فَقَدْ قَالَ
اللّٰهُ تَعَالَى
فِي كِتَابِهِ
الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ
بِاللّٰهِ مِنَ
الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ،
بِسْمِ اللّٰهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ:
وَالْعَصْرِ. إِنَّ
الْإِنْسَانَ لَفِي
خُسْرٍ. إِلَّا
الَّذِينَ آمَنُوا
وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ
وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر
إِنَّ اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ
عَلَى النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا
صَلُّوا عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللّٰهُمَّ صَلِّ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِ سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ كَمَا
صَلَّيْتَ عَلَى
سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ،
وَبَارِكْ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى سَيِّدِنَا
إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى
آلِ سَيِّدِنَا
إِبْرَاهِيمَ، فِى
الْعَالَمِينَ إِنَّكَ
حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ
وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ.
اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ
عَنَّا الْغَلَاءَ
وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ
وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ
مَا لَا
يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ
عَنْ بَلَدِنَا
هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا
خَاصَّةً وَعَنْ
سَائِرِ بِلَادِ
الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً
يَا رَبَّ
الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا
اٰتِنَا فِي
الدُّنْيَا حَسَنَةً
وَ فِي
الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً
وَ قِنَا
عَذَابَ النَّارِ،
عِبَادَ
اللّٰهِ، إِنَّ
اللّٰهَ يَأْمُرُ
بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيْتاءِ ذِي
اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى
عَنِ اْلفَحْشاءِ
وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ
يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا
اللّٰهَ اْلعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ
عَلىَ نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ
اللّٰهِ أَكْبَرْ
--------------
Ajie Najmuddin,
Pengurus MWCNU Banyudono Boyolali
Sumber: https://islam.nu.or.id/khutbah/khutbah-jumat-belajar-menjadi-orang-yang-amanah-dan-profesional-dari-rasulullah-jUuyF